Tampilkan postingan dengan label batik cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batik cirebon. Tampilkan semua postingan

Resensi Buku : "Batik Cirebon"

25.10.11


Batik Cirebon, Warisan Budaya Dunia Asli Indonesia

Judul Buku : Batik Cirebon

Pengarang : Casta, M.Pd dan Taruna, S.Pd

Desain Cover : Casta, M.Pd

Penerbit : Badan Komunikasi, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon

Tahun Terbit : 2007

Tebal Buku : 253 Halaman

Batik merupakan hasil karya asli bangsa Indonesia, batik telah resmi dikukuhkan UNESCO yaitu badan dunia PBB dalam bidang kebudayaan dan pendidikan sebagai salah satu warisan dunia. Batik Cirebon pasti tidak terlepas dari perkembangan dunia Perbatikan Nusantara dan ikut andil dalam pelestarian Batik Indonesia. Melalui buku batik Cirebon ini Badan Komunikasi, Kebudayaan dari Pariwisata melalui Penulis Bapak Casta, M.Pd dan Taruna, S.Pd bermaksud untuk mengenalkan dan memberikan pemahaman tentang Batik Cirebon.

Pada bagian covernya sendiri yang menggunakan salah satu motif Batik, sudah dipastikan seorang yang baru melihat pun akan beranggapan pasti buku ini berisi tentang dunia perbatikan, motif yang digunakan untuk cover buku ini adalah motif batik Naga Seba yang tergolong Batik Keratonan.

Dibagian isinya, buku “Batik Cirebon” ini tidak hanya sekedar mengupas tentang batik, namun awal adalah mengenal dari sejarah batik itu sendiri, yang merupakan karya seni asli warisan nenek moyang kita, terlebih untuk Batik Cirebon tidak akan terlepas dari pengaruh Keraton dan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Raden Walangsungsang atau Abah Kuwu Cirebon dan Syiekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di Cirebon dan Jawa Barat. Diterangkan juga tentang Desa Trusmi yang merupakan desa sentra dari pembuatan Batik Cirebon ini, tak hanya dari segi proses dan pembuatan batik, pada bab awal adalah menerangkan tentang Desa Trusmi, kebudayaannya, adat istiadatnya hingga asal-usulnya dari Batik Trusmi tersebut hingga menjadi Desa Wisata dan sentra kebudayaan batik di kawasan Cirebon.

Setelah menerangkan tentang sejarah batik itu sendiri dan keunikan yang ada di Desa Trusmi, bab selanjutnya adalah menerangkan dari sisi batiknya, dijelaskan bahwa batik di nusantara itu digolongkan atas dua jenis, jenis pertama adalah jenis batik keratonan yang biasa sering digunakan oleh orang-orang kerajaan atau dalam keraton, dan kedua adalah jenis batik pesisiran yaitu jenis batik yang sering digunakan dan dibuat oleh orang-orang atau rakyat biasa, untuk batik jenis pesisiran dari segi komposisi warna dan keanekaragaman corak memang sangat menarik dibandingkan dengan batik jenis keratonan, unsurnya yang digunakan lebih beragam dan variatif seperti menggunakan unsur flora dan fauna, kegiatan keseharian hingga bentuk-bentuk yang abstraktis berbeda dengan jenis batik keratonan yang lebih didominasi unsur-unsur yang memilik filosofi dan unsur yang menguatkan sisi keraton atau istana sentris.

Kelebihan dari buku ini adalah dari segi pemaparan yang menarik dan mudah dimengerti oleh segala lapisan masyarakat yang membacanya, disuguhi banyak segala gambar-gambar contoh motif-motif batik keratonan maupun pesisiran dari berbagai macam daerah di nusantara dengan berbagai motif yang beragam dari Cirebon. Yogyakarta, Pekalongan, Surakarta, Tasikmalaya dan daerah lainnya, kita juga diajak untuk memahami arti dari unsur yang terdapat pada motif batik tersebut serta pemaparan yang menarik untuk proses pembuatan batiknya tersebut.

Kekurangan yang dijumpai dari buku ini adalah kurangnya kata-kata motivasi dari penulis untuk mengajak pembaca melestarikan atau menjaga karya batik tersebut, berbeda dari tujuan yang disampaikan penulis. Penulis hanya menjabarkan materi dan memberikan pemahaman saja.

Menurut saya buku ini memang sangat layak sekali untuk kita baca, karena memang buku ini berisi tentang pengetahuan akan dunia perbatikan, batik adalah warisan dunia asli karya dari Indonesia khususnya batik hasil Cirebon, jadi untuk generasi penerus bangsa nanti dimaksudkan agar dapat melestarikan batik, tidak hanya sekadar menggunakan dan mengagumi, tapi mengerti akan proses pembuatan, arti dan filosofinya serta jenis-jenis batik itu sendiri.

READ MORE - Resensi Buku : "Batik Cirebon"

Sejarah Batik Megamendung

6.11.09

Akulturasi Budaya

SEBAGAI suatu karya seni, megamendung identik dan bahkan menjadi ikon batik pesisiran Cirebon. Batik ini memiliki kekhasan yang tidak dijumpai di daerah-daerah pesisir penghasil batik lain di utara Jawa seperti Indramayu, Pekalongan, maupun Lasem.

Kekhasan megamendung atau “awan-awanan” tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas seperti biru dan merah, tetapi juga pada nilai-nilai filosofi yang terkandung pada motifnya. Hal ini sangat erat berkaitan dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.

Belum jelas, kapan batik menjadi tradisi di daerah pesisir pantura. Dari beberapa penuturan, sejarah batik di Cirebon terkait erat dengan proses asimilasi budaya serta tradisi ritual religius. Prosesnya berlangsung sejak Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam di Cirebon sekitar abad ke-16.

Budayawan dan pemerhati batik, Made Casta menuturkan, sejarah batik dimulai ketika Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, Persia, dan India. Saat itu terjadi asimilasi dan akulturasi beragam budaya yang menghasilkan banyak tradisi baru bagi masyarakat Cirebon.


Pernikahan Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Djati merupakan ’pintu gerbang’ masuknya budaya dan tradisi Tiongkok (Cina) ke keraton. Ketika itu, keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan, pernik-pernik tradisi dan budaya Cina yang masuk bersama Putri Ong Tien menjadi pusat perhatian para seniman Cirebon. “Pernik-pernik Cina yang dibawa Putri Ong Tien sebagai persembahan kepada Sunan Gunung Djati, menjadi inspirasi seniman termasuk pebatik,” tutur perupa Made Casta. Keramik Cina, porselen, atau kain sutra dari zaman Dinasti Ming dan Ching yang memiliki banyak motif, menginspirasi seniman Cirebon. Gambar simbol kebudayaan Cina, seperti burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu, kilin, banji (swastika atau simbol kehidupan abadi) menjadi akrab dengan masyarakat Cirebon. Para pebatik keraton menuangkannya dalam karya batik. Salah satunya motif megamendung.

“Tentu dengan sentuhan khas Cirebon, sehingga tidak sama persis. Pada megamendung, garis-garis awan motif Cina berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan megamandung Cirebon cenderung lonjong, lancip, dan berbentuk segitiga. Ini yang membedakan motif awan Cina dan Cirebon,” tutur Made Casta.

H. Komarudin Kudiya, S.I.P., M.Ds., Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) mengemukakan, persentuhan budaya Cina dengan seniman batik Cirebon melahirkan motif batik baru khas Cirebon.

Motif Cina hanya sebagai inspirasi. Seniman batik cirebon kemudian mengolahnya dengan cita rasa masyarakat setempat yang beragama Islam. Dari situ, lahirlah motif batik dengan ragam hias dan keunikan khas, seperti Paksi Naga Liman, Wadasan, Banji, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, dan yang paling dikenal ialah megamendung.

“Meski megamendung terpengaruhi Cina, dalam penuangannya secara fundamental berbeda. Megamendung Cirebon sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya simbol perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai mati. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi,” tutur pemilik showroom “Batik Komar” di Jln. Sumbawa, Kota Bandung itu.

**

SEJARAH batik di Cirebon juga terkait perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan. Oleh karena itu, kendati terpengaruh motif Cina, penuangan gambarnya berbeda, dan nuansa Islam mewarnai. Disitulah terletak kekhasannya.

Pengaruh tarekat terlihat pada Paksi Naga Lima. Motif itu merupakan simbol berisi pesan keagamaan yang diyakini tarekat itu. Paksi menggambarkan rajawali, naga adalah ular naga, dan liman itu gajah. Motif tersebut menggambarkan peperangan kebaikan melawan keburukan dalam mencapai kesempurnaan.

“Motif itu juga menggambarkan percampuran Islam, Cina, dan India. Para pengikut tarekat menyimpan pesan-pesan agamis melalui simbol yang menjadi motif karya seni termasuk pada motif-motif batik,” tutur Made Casta.

Pada megamendung, selain perjalanan manusia, juga ada pesan terkait kepemimpinan yang mengayomi, dan juga perlambang keluasan dan kesuburan. Komarudin mengemukakan, bentuk awan merupakan simbol dunia luas, bebas, dan transenden. Ada nuansa sufisme di balik motif itu.

Membatik pada awalnya dikerjakan anggota tarekat yang mengabdi kepada keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tersebut. Di Cirebon, para pengikut tarekat tinggal di Desa Trusmi dan sekitarnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah, dan Panembahan, di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.

Oleh karena itu, sampai sekarang batik cirebon, identik dengan batik trusmi. Masyarakat Trusmi sudah ratusan tahun mengenal batik. “Eyang dari eyang saya sudah mengenal batik. Sampai sekarang turun-temurun. Awalnya memang Trusmi, sekarang dengan perkembangan yang pesat, masyarakat desa lain juga mengikuti tradisi Trusmi,” tutur alumnus ITB yang juga pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI).

Keberadaan tarekat menjadikan batik cirebon berbeda dengan batik pesisir lain. Karena yang aktif di tarekat adalah laki-laki, mereka pula yang awalnya merintis tradisi batik. Ini berbeda dengan daerah lain, membatik melulu pekerjaan wanita.

Warna-warna cerah merah dan biru yang menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis, karena ada campur tangan laki-laki dalam proses pembuatan batik. Di Trusmi pekerjaan membatik merupakan pekerjaan semesta. Artinya, seluruh anggota keluarga berperan, si bapak membuat rancangan gambar, ibu yang mewarnai, dan anak yang menjemurnya.

Oleh karena itu, warna-warna biru dan merah tua yang digunakan pada motif megamendung, mengambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter. (Agung Nugroho/”PR”)***

READ MORE - Sejarah Batik Megamendung